Quarter Life Crisis
Had just found out that one of my close friend are currently admitted to Stanford University (California, US).
*via Whatsapp*
Saya (F) : Stanfoooooorrrrdddd???
Teman (A) : Helloo fe
A : Stonfard stanford opoto haha
F : Kamu itu lhooooooo
F : Ih begitu denger kamu cabut ke Stanford aku menyesal kan
F : Pas habis lebaran ngga bisa ketemu, melepas kepergianmu
F : Hahahah
Ya, setelah lebaran kemarin saya kebetulan lihat update Path salah satu teman dekat saya yang tinggal di Bali. Ceritanya waktu itu mereka ketemuan di sana. Dan waktu saya komen, dibilang 'Besok temuin dia aja pas di Jogja, Fe..'
Eh tapi ternyata kabar-kabarannya telat. Sayanya keburu kembali merantau dan ngga bisa ketemu. Sampai akhirnya 1,5 bulan kemudian saya dapet info kalau dia udah berangkat ke Stanford. Panteeeeeeeessss, dari kemaren-kemaren kok instagram update-nya di New Zealand (oke, itu dua tempat yang berbeda, tapi intinya dia udah stand by di luar negeri).
Teman saya, si A ini, adalah motivator hebat. Dia bukan orang yang memotivasi dengan kata-kata, tapi dengan apa yang dia jalani. Saya masih ingat waktu SMA kita kerjaannya haha-hihi-haha-hihi, main kesana-kesini, saya rankingnya diatas, dia rankingnya bontot, dsb. Tapi liat jalan yang dia dapat. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan Dia yang paling tahu mana hambanya yang membutuhkan. Dengan kondisi personal yang si A punya, segala jalan yang dia ambil selalu dilancarkan Allah. Dan itu yang bikin kami terkagum-kagum, dan secara ngga langsung termotivasi dengan hebatnya.
Begitu saya dengar dia ke Stanford, hati ini bergejolak. Keinginan untuk lanjut sekolah langsung membara lagi.
Di satu cerita yang lain, awal Agustus ini saya ketemu si F. Orang yang sudah 14 tahun saya kenal. Orang yang terakhir saya ketemu 11 tahun yang lalu. Yang masih ingat semua detail yang dulu-dulu. Yang tahu, paling engga, background pendidikan saya, saya dulu gimana dan ngapain aja.
Salah satu pertanyaan yang F tanyakan waktu ketemu saya adalah, "Kamu ngga ikut LPDP?"
Satu pertanyaan itu aja bikin saya sadar. Ah, ya, saya sudah mengesampingkan ini terlalu lama. Keinginan yang sempat padam itu, sekarang seperti dinyalakan lagi.
Ada 2 hal yang jadi target saya dalam waktu dekat sekarang ini: career change dan master's degree. Kalau sama request orang tua saya sih sebenernya ada 3, yang satu lagi adalah nikah! Wkwk. Tapi karena jodoh itu bukan perkara yang gampang dan bisa ditentukan sendiri, plus beberapa waktu yang lalu saya sudah sempat ngode orang 'Kamu mau nikah kapan?' dan 'Udah ada calon, belum?' tapi karena kita adalah manusia yang bukan bicara dengan bahasa lumba-lumba pake kode-kodean dan kayaknya orangnya ngga nangkep, plus sebetulnya fokus di postingan kali ini bukanlah itu, maka mari pembicaraan tentang jodoh kita skip. Oke.
Kembali ke pembicaraan tadi. Ada 2 hal yang jadi target saya dalam waktu dekat sekarang ini: career change dan master's degree. Mana di antara 2 hal tersebut yang lebih dekat dan urgent? Career change. Kenapa? Hmmm, satu hal, terkait waktu. Tahun ini, tepatnya di November, adalah tepat 2 tahun saya berada di posisi yang sekarang. Secara strategik, saya harus mempertimbangkan apakah ada perbedaan signifikan antara ketika saya baru nyemplung dengan sekarang ini. Kalau engga, then it leaves a big question mark.
Kenapa harus career change? Hmmm, untuk advancing career di posisi saya yang sekarang ini agak sulit karena beberapa hal. Lagipula bidang yang sekarang saya pegang adalah hilir dari bidang yang ingin saya tekuni. Ya secara ngga langsung bidang ini adalah modal untuk nyemplung ke bidang yang ingin saya tekuni tadi.
Di tahun ini, saya berusia 26 tahun. Satu tahun sebelum usia 27. Just in case langkah yang tersisa adalah pindah company, untuk beberapa perusahaan usia 27 menjadi batas syarat. That'd be the answer why I mentioned urgency in my previous paragraph. Lagipula career change ini akan nyambung ke master's degree yang akan saya ambil.
Dua target ini adalah hal yang sempat saya tunda beberapa waktu. Semata-mata karena ragu-ragu. 'Sekarang atau nanti ya?' 'Apa ini udah tepat atau belum ya?' dan sebagainya.
Keragu-raguan adalah hal yang bikin apa yang di depan jadi kabur.
Buat orang yang pernah main panahan pasti tau, semakin kita ragu-ragu, ngga stabil, semakin susah untuk mengarahkan anak panah ke target. Bahkan skor terkecil pun bisa jadi ngga kena. Ya sama, ya gitu.
Life is all about choices.
Kalau sudah dihadapkan sama suatu pilihan, ya lekas diputuskan. Kalau ragu-ragu, jadi ngga jelas arahnya mau kemana. Nanti kalau ragu-ragu terus, kelamaan, keburu tua. Just get it over with. Kalau sudah ambil keputusan lalu salah, paling engga masih punya banyak waktu untuk belok dan menjalani keputusan yang lain. Tapi kalau cuma ragu-ragu aja, ngga kelar-kelar, keburu telat.
Makanya sekarang kesannya waktunya sudah sempit sekali. Bertemu dan berbicara dengan kedua orang di atas, si F dan si A, sedikit-banyak menghapuskan keragu-raguan saya untuk mengejar hal-hal yang jadi target saya di atas. Sebelum tertunda terlalu lama. Keburu telat. Keburu tua. Hahahah.



0 comment(s)