My Psychological Healing Journey #3 : MASA LALU - Aku & Diri Sendiri

 


Lama-lama self-love’ku jadi rendah. Lama-lama aku juga jadi minder.
Kalo terkait pengetahuan atau kerjaan, aku bisa percaya diri banget. Tapi kalo tentang hubungan sama orang lain, aku minder.

Kadang aku berpikir.
Misal aku tertarik sama orang, kenapa ya orang itu ngga tertarik sama aku.
Tapi kalo ada orang tertarik sama aku, kenapa ya seringnya aku ngga tertarik sama dia.

Apa aku ini orang yang ngga punya kualitas baik, apa aku ini ngga layak dicintai.

Aku pasti orang yang ngga sebaik itu, sampe ngga ada yang mau sama aku.
Aku ngga layak aja. Aku bukan apa-apa. Aku juga bukan siapa-siapa. Usahaku ngga ada harganya.
Aku ngga cantik. Aku ngga cukup baik.
Aku ngga suka sama diriku sendiri, aku ngga bisa menghargai diriku sendiri.

Kalo ternyata akhirnya ada orang yang suka sama aku, apa memang dia bakal suka semua hal tentang aku? Gimana kalo apa yang ada di aku ngga bisa dia terima?

Akhirnya aku semakin ragu-ragu untuk berhubungan sama orang. Aku ngga cukup percaya diri untuk memulai hubungan sama orang.

--

Sampai kemudian ada orang yang muncul di 2019.
Yang bikin aku luluh.

Tapi ternyata setelah sekian lama jalan sama dia (sekitar 1 tahunan lebih), suatu ketika, jeda 2 hari setelah jalan sama aku, dia sama cewe lain.

Di waktu itu, aku mikirnya, “Oh oke, baik, jadi ini kesimpulannya. Intinya pada akhirnya memang aku bukan orangnya yang dia suka.”
Dan waktu itu aku biasa aja, kayak “Oh yaudah lah kalo gitu.”


Tapi ternyata, 2 minggu setelah itu, tiba-tiba ada periode selama seminggu aku gemetar, aku mual dan mau muntah, detak jantungku juga ngga beraturan.

Itu adalah Panic Attack.
Ternyata, selain trauma yang sebelumnya, aku mengalami trauma lagi.

Di akhir minggu aku berpikir, aku ngga bisa begini. Aku butuh pertolongan.
Akhirnya aku minta rujukan ke dokter di suatu klinik, aku minta pengantar untuk ke dokter spesialis kejiwaan.

Waktu di klinik, aku nangis di depan dokter umum. Aku bilang, “Ada yang ngga beres sama saya, tapi saya ngga tau apa. Saya rasa saya butuh dibantu, Dok. Saya mau tau saya kenapa.”
Dokter di klinik bilang, “Gapapa, itu hal yang normal. Justru bagus kamu sadar sendiri kalo ada yang salah. Dan kamu mau mencari pertolongan.”

“Saya aneh ya Dok?”
“Engga, ngga aneh. Di puskesmas tempat saya praktek, banyak kok mahasiswa-mahasiswa yang juga seperti kamu, entah karena tekanan dari orang tua, atau karena merantau, atau karena problem lain. Ada juga yang malah ngerasa baik-baik aja padahal dianya ngga baik-baik aja. Bagus kalo kamu sadar ada yang beda, sehingga bisa dicari tahu penyebabnya sejak awal.”

Pada prinsipnya, ketemu dengan dokter kejiwaan menurutku sama halnya kayak kita lagi sakit fisik, kita pun ketemu dokter. Jadi aku rasa karena secara psikis aku lagi ngga sehat, aku perlu ketemu dokter yang kemungkinan bisa membantu.

Dan akhirnya, aku ke Psikiater (bukan Psikolog) karena I need medication as soon as possible. Disitu aku dikasih obat anti-anxiety & anti-depressant (anti cemas & anti depresi). Obat ini intinya memberikan ketenangan, supaya mood & emosi menjadi stabil.

Tapi untuk solusi yang lebih permanen, aku disarankan ketemu sama Psikolog.

Karena konsumsi obat selama 1 bulan, kecemasan & depresi itu hilang.
Tapi Desember 2021 & Januari 2022 kemarin, aku tiba-tiba ada gelombang emosi yang dateng.
Ketika gelombang emosi ini dateng, aku kayak kambuh : mood kayak roller coaster, bisa tiba-tiba sedih sendiri.
Tapi aku masih ngga tau kenapa.

You Might Also Like

0 comment(s)