My Psychological Healing Journey #4 : MASA KINI


 

Akhirnya, aku putusin untuk ketemu Psikolog di akhir Januari 2022.

Jujur aja, cerita sama Psikolog itu sama susahnya kayak cerita ke orang lain. Beberapa hari sebelum ketemu Psikolog, di pikiranku “Ah aku nanti mau cerita gini. Ah, aku kayaknya harus nyebutin ini.” Dan sebagainya. Tapi begitu ketemu Psikolognya, aku bingung apa yang mau ku ceritain… :(

Sampai Psikolognya coba Psikoterapi dengan masuk ke alam bawah sadar pun, aku cuma bisa bilang “Saya ngga tau, saya ngerasa biasa aja sekarang.”

Akhirnya Psikolog ini kasih aku PR untuk dikerjain dan ditulis, dan aku harus jadwalkan sesi lagi Setelah ngerjain dan nulis PR-nya.

Dan di tengah prosesku ini, aku ternyata masih harus mengalami trauma terparah yang pernah terjadi, karena bertepatan sama ulang tahunku. Karena sesuatu hal, depresi datang sampai di level aku ngga bisa makan selama 2 minggu (cuma bisa minum air putih, ngga bisa masuk yang lain), dan nangis terus hampir setiap hari.

Di sekitar Juli 2022, aku putuskan untuk jadwalin sesi sama Psikolog lagi, untuk menuntaskan hal ini.

Aku mau bebas dari perasaan-perasaan ngga enak ini.
Aku pengen berkeluarga.
Dan aku mau berkeluarga dalam kondisi aku yang utuh. Yang baik. Yang sembuh.

Pada akhirnya, aku menjalani beberapa sesi sama Psikolog (berkali-kali ya, bukan cuma sekali).


Intinya, ada beberapa hal yang aku bilang ke Psikolog-nya bahwa ini jadi kekhawatiranku
  • Bahwa self-love dan self-esteem’ku rendah
  • Bahwa aku ngga bisa mendefinisikan kebahagiaan. Apa itu bahagia? Aku, lingkunganku, kondisiku, ngga buruk atau apa, tapi kenapa aku ngga happy? Kenapa orang bisa bahagia? Sebetulnya sehari-hari ada hal yang seharusnya bikin happy, tapi kenapa hatiku ngga ngerasa penuh?
  • Bahwa aku kurang bisa mengeskpresikan rasa sayangku ke orang lain, meskipun aku sebenernya sayang
  • Bahwa aku takut memulai suatu hubungan dengan orang lain. Aku takut karena aku yang seperti ini, aku bakal melukai orang lain, yang akhirnya kondisi itu bakal melukai aku juga
Psikolog aku bilang, aku ini orang yang rendah afeksi. Tidak tau apa itu kasih sayang, tidak tau cara menerima kasih sayang, dan tidak tau cara mengekspresikan kasih sayang.

Apakah ini hal yang salah? Engga.

Ini adalah salah satu bentuk inner child yang sedang terluka, yang perlu disembuhkan. Inner child sendiri ada karena luka di masa lalu, terutama sewaktu masa kecil/ kanak-kanak, yang akhirnya menetap sampai dewasa.

Jadi, sekarang ini aku sedang berusaha menyembuhkan inner child-ku.
Sebetulnya udah 3 tahun terakhir aku berusaha sendiri, ditambah sekarang dibantu sama Psikolog juga.

Aku lagi belajar buat lebih terbuka sama orang.
Belajar acceptance (penerimaan).
Belajar acceptance terhadap diri sendiri, kalo banyak kekurangan itu gapapa.
Accept perhatian yang dikasih orang lain.
Accept kebaikan dari orang lain.
Accept bahwa ya bisa aja orang suka sama aku ya kan.
Accept bahwa aku layak mencintai dan dicintai orang.
Accept bahwa sebenernya aku punya banyak kualitas baik, dan itu adalah aku.
Aku juga lagi belajar untuk mengekspresikan perasaanku.

Meskipun, ini mungkin akan jadi proses yang panjang, karena 20 tahun lebih (hampir 30 tahun) aku sendiri dan ngga terbiasa sama hal-hal begini.

Dan mungkin di dalam proses ini, aku masih bakal “kambuh” sesekali.
Mungkin di dalam proses ini, aku butuh bantuan juga dari orang lain.

--

Jadi, untuk menjelaskan beberapa hal di sehari-hari, salah satu contohnya begini.

Jadi misal kenalan sama cowo dan diajak jalan.
Kalopun sejujurnya aku seneng banget, dalam hati : aku ingin mengenalmu lebih jauh, yampun aku bahagia sekali kita bisa deket seperti ini, kamu sukanya apa, aku sukanya ini.

Aku ngga bisa mengekspresikan ini dengan baik. Jadi kesannya kayak aku biasa aja dan ngga tertarik.
Padahal dalam hati : ya ampun kamu lucu banget sih aku mau gandeng boleh ngga. Kalo aku mau peluk boleh ngga.

Aku dikasih cinta aja takut.
Giliran ngga ada cinta, malah ‘Ya Allah kenapa ga ada yang suka sama aku’.

Labil ya. Hahaha.

Atau di waktu yang lain, misal lagi deket sama orang.

Misal ada perbuatan yang dia lakukan tapi aku ngga suka, atau hal yang aku berharap dia lakukan tapi ternyata engga. Selama ini aku cuma diem aja karena aku pikir, "Nanti kalo aku bilang, aku dianggap rewel. Nanti kalo aku bilang, apa dia masih sayang sama aku?" Nanti kalo gini, nanti kalo gitu...

Tapi ngga menyampaikan hal-hal kayak gitu, justru akan menjadi akar dari masalah yang lain.
Malah akan menjadi masalah komunikasi, yang dipendam terus dan menjadi besar.

Yang pasti, aku sekarang sedang belajar tentang itu.
Belajar membangun hubungan sama orang lain.
Belajar mengkomunikasikan hal sama orang lain.
Belajar mencintai diri sendiri juga.
Dan aku masih berproses.

Mungkin ngga semua orang bisa memahami proses yang aku lakukan.
Tapi for sure, ini proses yang aku butuhkan.

Ada kalimat dari temenku yang dia sampein suatu ketika waktu aku lagi ‘kambuh’,
“Kamu orang baik dan layak dikelilingi orang baik. Jadi ngga perlu berpikir kayak gitu. Kamu lebih besar dari pemikiranmu.”

Semoga ya. Bismillah.



You Might Also Like

0 comment(s)